15 Juli 2026 – Kelangkaan bahan bakar minyak di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Medan, Sumatera Utara, memicu antrean panjang kendaraan sejak sore hingga larut malam. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lainnya demi mendapatkan bahan bakar. Tidak sedikit pengendara yang rela menghabiskan waktu berjam-jam di antrean karena khawatir tidak dapat menjalankan aktivitas sehari-hari apabila kendaraan mereka kehabisan BBM.
Sejumlah SPBU di berbagai titik Kota Medan dilaporkan mengalami kekosongan stok, terutama untuk jenis Pertalite dan Pertamax. Beberapa lokasi yang menjadi tujuan masyarakat justru tidak lagi memiliki persediaan bahan bakar, sehingga pengendara terpaksa mencari SPBU lain yang masih memiliki stok. Akibatnya, titik-titik SPBU yang masih beroperasi dengan persediaan BBM memadai dipadati kendaraan roda dua maupun roda empat hingga menyebabkan antrean yang mengular.
Salah seorang warga, Leo Sembiring, mengaku harus mendatangi empat SPBU berbeda sebelum akhirnya menemukan lokasi yang masih menyediakan Pertalite. Menurutnya, tangki kendaraannya hampir benar-benar kosong sehingga ia tidak memiliki pilihan selain terus mencari hingga mendapatkan bahan bakar. Situasi tersebut membuat perjalanan yang seharusnya sederhana berubah menjadi aktivitas yang menguras waktu dan tenaga.
Leo menuturkan dirinya mulai mengantre sejak sekitar pukul 18.30 WIB. Hingga menjelang pukul 22.30 WIB, antrean masih belum juga selesai. Meski harus menunggu selama beberapa jam, ia tetap bertahan karena kendaraan tersebut akan digunakan untuk bekerja keesokan paginya. Ia juga sempat mencoba mencari BBM eceran di sepanjang jalan, namun kesulitan menemukannya. Kalaupun tersedia, harga yang ditawarkan dinilai jauh lebih mahal dibandingkan harga di SPBU.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Mery, yang menyebut kelangkaan tidak hanya terjadi pada Pertalite, tetapi juga Pertamax. Menurutnya, hampir seluruh SPBU yang didatangi mengalami kekosongan stok atau memiliki antrean kendaraan yang sangat panjang. Ia mengaku harus menunggu sekitar satu jam dan memilih tetap bertahan karena tidak memiliki alternatif lain untuk mendapatkan bahan bakar.
Bagi Mery, keterbatasan pasokan BBM memberikan dampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari. Ia menjelaskan bahwa kendaraan menjadi kebutuhan utama untuk mengantar anak ke sekolah, bekerja, maupun menjalankan berbagai keperluan rumah tangga. Ketika BBM sulit diperoleh, seluruh aktivitas tersebut ikut terganggu sehingga masyarakat terpaksa meluangkan waktu lebih lama hanya untuk mengisi bahan bakar kendaraan.
Kelangkaan BBM yang terjadi di Medan juga menimbulkan kekhawatiran akan dampak yang lebih luas apabila tidak segera diatasi. Selain menghambat mobilitas masyarakat, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi, distribusi barang, hingga produktivitas para pekerja yang bergantung pada kendaraan bermotor. Semakin lama pasokan belum kembali normal, semakin besar pula potensi gangguan terhadap berbagai sektor yang bergantung pada kelancaran transportasi.
Masyarakat berharap pemerintah bersama pihak terkait dapat segera mengambil langkah cepat untuk menormalkan distribusi BBM di wilayah Medan. Percepatan pasokan dinilai menjadi solusi penting agar antrean panjang dapat segera terurai dan kebutuhan masyarakat terhadap bahan bakar kembali terpenuhi. Dengan distribusi yang lancar, aktivitas warga diharapkan dapat kembali berjalan normal tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM. (Redaksi)

