9 Juni 2026 – Aktivitas memancing yang seharusnya menjadi momen rekreasi menyenangkan bagi anak-anak berubah menjadi sebuah tragedi yang sangat memilukan di kawasan Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Seorang bocah laki-laki yang baru menginjak usia sembilan tahun dilaporkan meninggal dunia setelah mendapat serangan brutal dari kawanan anjing yang tengah digunakan untuk berburu babi hutan. Peristiwa mengerikan ini mulai terkuak dan menggemparkan warga setempat setelah adanya laporan mengenai penemuan jasad korban yang terkapar di area sekitar hutan pada hari Minggu, 7 Juni 2026.
Berdasarkan hasil penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh pihak kepolisian, petaka ini bermula ketika korban sedang asyik memancing di sebuah aliran air di dalam kawasan hutan bersama dengan seorang temannya. Tanpa diduga, secara tiba-tiba muncul beberapa ekor anjing pemburu yang langsung berlari kencang dan merangsek ke arah kedua anak tersebut karena mengira mereka adalah target buruan atau merasa terganggu. Dalam situasi yang sangat mencekam dan panik tersebut, salah satu anak beruntung karena berhasil meloloskan diri dari kepungan, namun malang bagi korban yang tidak sempat menyelamatkan diri hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir akibat luka gigitan yang sangat parah di sekujur tubuhnya.
Pihak Satreskrim Polres Bogor menjelaskan bahwa pada saat kejadian mengerikan itu berlangsung, memang sedang ada aktivitas perburuan hama babi hutan skala besar yang digelar di dalam area hutan tersebut. Skala perburuan ini terbilang sangat masif karena melibatkan puluhan orang pemburu yang datang secara berombongan untuk membersihkan wilayah tersebut dari gangguan babi hutan. Keberadaan anak-anak yang sedang memancing di dalam hutan disinyalir tidak diketahui oleh para pemburu karena posisi mereka yang berada di area tersembunyi dekat sumber air.
Pihak Polsek Jasinga memberikan rincian lebih lanjut bahwa setidaknya ada sekitar 43 orang pemburu babi hutan yang saat itu berada di sekitar lokasi kejadian dan seluruhnya telah diamankan untuk dimintai keterangan. Setiap pemburu yang berpartisipasi terpantau membawa anjing pemburu andalan mereka masing-masing, sehingga jumlah anjing yang berkeliaran di dalam hutan pada hari itu mencapai puluhan ekor. Banyaknya jumlah anjing ini meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan berburu, terutama ketika hewan-hewan tersebut lepas dari pengawasan langsung pemiliknya saat mengejar mangsa.
Luasnya medan perburuan yang mencapai belasan hingga puluhan hektare membuat para pemburu harus memecah formasi mereka menjadi beberapa kelompok kecil yang tersebar di berbagai titik acak. Jarak antar kelompok pemburu tersebut bahkan bisa mencapai sekitar 5 kilometer atau lebih, sehingga koordinasi di lapangan menjadi sangat sulit untuk dipantau secara menyeluruh. Pihak kepolisian menduga kuat bahwa ada salah satu kelompok pemburu yang melepaskan sekitar empat ekor anjing mereka di titik yang lokasinya sangat berdekatan dengan posisi kedua bocah yang sedang memancing, hingga akhirnya memicu penyerangan fatal yang merenggut nyawa tersebut. (Redaksi)

