18 Februari 2026 – Menjelang datangnya Ramadan 1447 Hijriah, sebagian masyarakat sibuk menunggu hasil sidang isbat dan menyiapkan agenda ibadah. Namun jauh sebelum kalender resmi berbicara, masyarakat Jawa telah lebih dulu bersiap melalui sebuah tradisi tua yang diwariskan lintas generasi, yakni ruwahan. Tradisi yang telah hidup selama ratusan tahun ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan laku spiritual yang sarat makna dan semakin relevan dengan persoalan zaman.

Ruwahan kerap dikenal melalui kegiatan nyadran, membersihkan makam leluhur, resik-resik masjid dan surau, hingga makan bersama sebagai simbol syukur. Namun di balik aktivitas tersebut, tersimpan pesan mendalam tentang relasi manusia dengan Tuhan dan alam. Ruwahan sejatinya mengajarkan bahwa menyucikan diri menjelang bulan puasa tidak bisa dilepaskan dari upaya merawat lingkungan tempat manusia berpijak.

Warisan Walisongo dan Kesadaran Lingkungan

Tradisi ruwahan dipercaya sebagai bagian dari dakwah kultural para Walisongo, yang menanamkan nilai Islam melalui pendekatan budaya. Dalam praktiknya, ruwahan menautkan ibadah spiritual dengan tindakan nyata di ruang sosial. Membersihkan makam dan tempat ibadah bukan hanya rutinitas tahunan, melainkan simbol penyucian jiwa dan lingkungan secara bersamaan.

Di sinilah ruwahan beririsan dengan konsep ekoteologi, yakni pendekatan keagamaan dalam merespons persoalan lingkungan. Ekoteologi menempatkan manusia bukan sebagai penguasa alam, melainkan bagian dari ekosistem yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaganya. Pendekatan ini menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan semata persoalan teknis, tetapi juga krisis spiritual.

Kesibukan warga menyapu daun kering di makam atau membersihkan saluran air di sekitar masjid mengandung pesan yang kuat. Ibadah ritual tidak akan bermakna jika dilakukan sambil mengabaikan kebersihan dan kelestarian bumi. Ruwahan mengingatkan bahwa kesalehan pribadi harus berjalan seiring dengan kesalehan sosial dan ekologis.

Ruwat Bumi dan Pertobatan Ekologis

Istilah ruwat dalam ruwahan sering dipahami secara keliru sebagai praktik mistis. Padahal makna dasarnya adalah pembebasan dan penyucian. Jika dahulu ruwatan dimaknai sebagai upaya membebaskan diri dari nasib buruk, dalam konteks hari ini ruwahan dapat dipahami sebagai usaha kolektif meruwat bumi dari kerusakan akibat perilaku manusia.

Kegiatan bersih-bersih lingkungan dan tradisi padusan menjelang Ramadan dapat dibaca sebagai bentuk pertobatan ekologis. Ada kesadaran bahwa selama satu tahun penuh, manusia kerap lalai menjaga alam, menghasilkan sampah, dan mengeksploitasi sumber daya tanpa kendali. Ruwahan menjadi momen refleksi untuk memperbaiki hubungan tersebut sebelum memasuki bulan suci.

Tradisi ini juga mengingatkan manusia akan ketergantungannya pada alam. Simbol-simbol kebersamaan dan hasil bumi dalam ruwahan menegaskan bahwa manusia hidup dari alam dan karenanya berkewajiban menjaganya. Pesan moralnya sederhana namun kuat, mencintai bumi adalah jalan untuk merawat keberkahan hidup.

Bumi sebagai Ruang Ibadah

Gagasan bahwa bumi adalah ruang ibadah yang luas semakin memperkaya makna ruwahan. Menteri Agama RI Nasaruddin Umar kerap menekankan bahwa bumi adalah masjid besar tempat manusia bersujud. Artinya, setiap jengkal tanah yang kita pijak harus dijaga kehormatannya.

Dengan perspektif ini, merawat lingkungan melalui ruwahan bukan lagi sekadar tradisi budaya, tetapi bagian dari etika ibadah. Menjaga kebersihan desa, sumber air, dan tempat ibadah berarti menjaga kesucian ruang sujud itu sendiri.

Nilai pendidikan karakter dalam ruwahan pun tumbuh secara organik. Di beberapa daerah, anak-anak dilibatkan dalam ritual simbolik seperti mencukur rambut atau mendatangi sumber air, mengajarkan mereka tentang kebersihan, kesehatan, dan harmoni dengan alam sejak dini. Semua itu dilakukan tanpa ceramah panjang, tetapi melalui praktik nyata yang membekas.

Kesalehan yang Membumi

Pada akhirnya, ruwahan mengajarkan bahwa kesalehan sejati tidak berhenti pada ritual personal. Kesalehan harus membumi, berwarna hijau, dan berdampak nyata bagi lingkungan sekitar. Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perilaku yang merusak alam.

Momentum menjelang bulan suci ini menjadi kesempatan berharga untuk membersihkan hati sekaligus merawat bumi. Dengan lingkungan yang bersih, asri, dan selaras, ibadah pun terasa lebih khusyuk dan bermakna. Ruwahan mengajak kita memasuki Ramadan tidak hanya dengan jiwa yang bening, tetapi juga dengan semesta yang terjaga. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *