17 Februari 20206 – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, kompetisi sepak bola tertinggi Inggris kembali menunjukkan komitmennya terhadap inklusivitas. Premier League memastikan kebijakan yang memberi kesempatan pemain Muslim untuk berbuka puasa di tengah pertandingan tetap diberlakukan, sebagaimana yang sudah diterapkan dalam beberapa musim terakhir.
Kebijakan ini tidak hanya berlaku di Premier League, tetapi juga di seluruh kompetisi sepak bola profesional Inggris. Prosedur tersebut dirancang agar para pemain Muslim dapat menjalankan ibadah puasa tanpa mengganggu jalannya pertandingan. Ramadan tahun ini dimulai pada pekan ini, dan sejumlah laga diprediksi akan berlangsung bertepatan dengan waktu magrib.
Di Inggris, waktu berbuka puasa umumnya berada di rentang pukul 17.00 hingga 19.00 waktu setempat. Dengan jadwal pertandingan yang kerap digelar pada Sabtu sore pukul 17.30 atau Minggu pukul 16.30 waktu setempat, momen berbuka puasa berpotensi terjadi saat laga masih berlangsung.
Dalam pelaksanaannya, wasit dan kapten kedua tim akan berkoordinasi untuk menentukan momen yang paling memungkinkan bagi pemain Muslim membatalkan puasa. Kesempatan tersebut biasanya diberikan saat permainan terhenti secara alami, seperti tendangan gawang, tendangan bebas, atau lemparan ke dalam. Pertandingan tidak dihentikan sepenuhnya, tetapi pemain diberi waktu singkat sekitar satu hingga tiga menit untuk minum dan mengonsumsi asupan ringan.
Sebelum laga dimulai, ofisial pertandingan dan perwakilan tim juga akan membahas kemungkinan jeda singkat serta perkiraan menit terjadinya momen berbuka. Kesepakatan ini bertujuan agar semua pihak memahami situasi di lapangan dan pertandingan tetap berjalan sportif. Pada musim-musim sebelumnya, jeda semacam ini pernah disepakati terjadi di sekitar menit ke-30 pertandingan.
Sepak bola Inggris sendiri dihuni banyak pemain Muslim yang berkiprah di level tertinggi. Beberapa nama besar di antaranya adalah Mohamed Salah, Wesley Fofana, William Saliba, dan Noussair Mazraoui. Mereka tetap menjalani puasa meski harus berlatih intensif dan bertanding dalam ritme kompetisi yang padat.
Dukungan juga datang dari klub masing-masing. Sejumlah tim menyesuaikan jadwal latihan, pola nutrisi, hingga program pemulihan demi membantu pemain Muslim tetap berada dalam kondisi fisik optimal selama Ramadan. Salah satu contoh nyata adalah Liverpool, yang kerap menyesuaikan agenda latihan untuk mendukung kebutuhan pemainnya yang menjalankan ibadah puasa.
Kebijakan ini menegaskan bahwa sepak bola modern tidak hanya soal kompetisi, tetapi juga tentang menghormati keberagaman budaya dan keyakinan. Dengan ruang yang diberikan untuk berbuka puasa di tengah laga, Premier League kembali memperlihatkan wajah sepak bola yang inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan para pemainnya. (Redaksi)

