Jakarta, 13 Oktober 2025 – Di lereng Gunung Gumitir, Stasiun Mrawan berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang transportasi Indonesia. Sejak masa kolonial, stasiun ini tidak hanya menjadi simpul pergerakan ekonomi antara Jember dan Banyuwangi, tetapi juga penanda kemajuan teknologi kereta api di Nusantara. Kini, setelah lebih dari satu abad, Stasiun Mrawan tetap berdenyut dengan semangat konektivitas yang diwariskan dari masa ke masa.
Bangunan klasik bergaya Indische di stasiun ini membawa nuansa nostalgia. Namun, di balik arsitektur bersejarahnya, Mrawan juga merefleksikan transformasi besar yang dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dalam menjaga warisan sambil terus memperbarui sistem operasional. Kombinasi antara sejarah dan modernisasi menjadikan Mrawan contoh konkret bagaimana transportasi publik dapat beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.
Kawasan sekitar stasiun yang dahulu didominasi oleh perkebunan kopi dan teh, kini berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan alam. Jalur menuju Stasiun Mrawan menawarkan panorama hutan tropis dan kabut tebal khas Gumitir yang menambah pesona perjalanan. Banyak wisatawan menjadikan perjalanan ini sebagai pengalaman tak terlupakan, terutama saat kereta menembus terowongan Mrawan yang legendaris.
PT KAI menyadari nilai strategis Mrawan, bukan hanya dari sisi transportasi, tetapi juga warisan budaya dan pariwisata. “KAI terus berkomitmen menjaga keberlangsungan stasiun-stasiun bersejarah seperti Mrawan, karena di dalamnya terdapat nilai sejarah bangsa yang tidak ternilai,” ujar salah satu perwakilan KAI.
Selain menjadi penghubung antarwilayah, Mrawan juga turut berperan dalam meningkatkan perekonomian lokal. Komoditas pertanian dan hasil bumi dari Jember dan sekitarnya banyak dikirim melalui jalur ini, menjadikannya nadi perdagangan regional. Dari sinilah konektivitas ekonomi daerah tumbuh dan berkembang.
Kini, Mrawan bukan sekadar stasiun tua di lereng gunung. Ia adalah simbol dari semangat bangsa dalam menjaga konektivitas dan sejarah. Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan Stasiun Mrawan menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus melupakan akar sejarah. (Redaksi)

