9 April 2026 – Di balik kemewahan dan kesuksesan yang kini ia rengkuh sebagai salah satu konten kreator terbesar di Asia Tenggara, Atta Halilintar ternyata menyimpan memori masa kecil yang penuh dengan peluh dan air mata. Jauh sebelum ia dikenal sebagai raja media sosial, putra sulung dari keluarga Gen Halilintar ini hanyalah seorang anak kecil biasa yang memiliki impian setinggi langit untuk mengenakan seragam kebanggaan Tim Nasional Indonesia. Namun, perjalanan mengejar impian di atas rumput hijau itu tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang.
Atta secara terbuka mengenang masa-masa sulit tersebut sebagai pengingat bahwa kesuksesan yang ia raih saat ini merupakan hasil dari kegigihan yang sudah teruji sejak usia dini.
Terobsesi Jadi Pemain Timnas Sejak Kecil
Hasrat Atta terhadap dunia si kulit bundar bukanlah sekadar hobi musiman. Sejak kecil, ia sangat terobsesi untuk menjadi atlet profesional, baik di lapangan sepak bola maupun futsal. Baginya, membela tanah air melalui olahraga adalah impian terbesar yang selalu membakar semangatnya setiap hari.
Saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa kemarin, suami dari Aurel Hermansyah ini mengungkapkan bahwa darah sepak bola sudah mengalir dalam dirinya sejak lama. Sayangnya, impian besar tersebut sering kali harus berbenturan dengan realita dan kekhawatiran orang tuanya yang melihat hobi tersebut lebih banyak memberikan luka fisik daripada prestasi di masa itu.
Luka Fisik dan Larangan Orang Tua
Perjuangan Atta untuk sekadar bisa bermain bola sering kali berakhir dengan teguran keras saat sampai di rumah. Alasan orang tuanya melarang bukan karena benci pada olahraga tersebut, melainkan karena kondisi Atta yang selalu memprihatinkan setiap kali pulang dari lapangan. Tubuhnya sering kali dipenuhi luka gores, berdarah, hingga mengalami cedera engkel yang serius.
Meskipun harus menghadapi kemarahan orang tua dan rasa sakit fisik, semangat Atta tidak pernah padam. Ia tetap nekat melanjutkan hobinya karena rasa cintanya yang begitu besar terhadap olahraga ini. Baginya, setiap luka yang ia bawa pulang adalah tanda perjuangan demi mencapai mimpi yang ia idam-idamkan.
Mandiri Demi Membeli Sepatu Bola Rusak
Kondisi ekonomi keluarga yang belum seberuntung sekarang memaksa Atta untuk memutar otak demi memiliki perlengkapan bermain yang layak. Karena orang tuanya tidak memberikan dana untuk membeli sepatu bola baru, Atta kecil harus belajar menabung dari uang saku yang sangat terbatas.
Momen yang paling ia ingat adalah ketika ia harus membeli sepatu sepak bola bekas dalam kondisi yang sudah robek karena hanya itu yang sanggup ia beli. Meskipun menggunakan perlengkapan yang sudah tidak layak pakai, hal tersebut tidak mengurangi ketangkasannya di lapangan. Ia rela menjahit kembali sepatu-sepatu tersebut demi bisa terus mengejar bola.
Kini, meski ia telah berkeluarga dan menjadi pria sukses, kecintaannya pada sepak bola tetap tidak berubah. Atta berkelakar bahwa jika dulu ia dimarahi oleh orang tuanya karena sering cedera, kini giliran sang istri yang kerap memberikan teguran jika ia terlalu asyik bermain bola hingga lupa waktu atau kembali mengalami cedera ringan di lapangan. Perjalanan dari sepatu bekas hingga memiliki klub sepak bola sendiri adalah bukti nyata bahwa mimpi yang terus dipupuk akan membuahkan hasil manis pada waktunya. (Redaksi)

