Jakarta, 2 Desember 2025 – Kereta Petani dan Pedagang adalah investasi sosial dengan return berupa kesejahteraan ekonomi rakyat yang terukur. PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Pemerintah memandang layanan ini bukan dari perspektif profit semata, tetapi sebagai investasi sosial yang menghasilkan return dalam bentuk peningkatan pendapatan petani dan pedagang, stabilitas harga pangan, pengurangan kemiskinan, dan pertumbuhan ekonomi lokal. Meski subsidi PSO diperlukan untuk operasional, return sosial dan ekonomi yang dihasilkan jauh melebihi investasi yang ditanamkan. Perspektif investasi sosial ini penting untuk menjustifikasi keberlanjutan program dan mendorong replikasi di wilayah lain.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan, Kereta Petani dan Pedagang adalah investasi sosial dengan return yang signifikan. “KAI akan terus berkolaborasi dengan Pemerintah untuk menghadirkan layanan yang memberi manfaat sosial dan ekonomi,” ujar Anne. Menurutnya, return investasi sosial tidak diukur dari revenue tiket, tetapi dari dampak ekonomi seperti peningkatan pendapatan petani yang bisa mengakses pasar lebih baik, penghematan biaya distribusi pedagang yang meningkatkan margin mereka, dan stabilitas harga pangan yang menguntungkan konsumen. Studi dampak ekonomi akan dilakukan untuk mengukur return investasi sosial secara kuantitatif.
Kereta Petani dan Pedagang memiliki model investasi sosial yang melibatkan subsidi PSO sebagai input dan peningkatan kesejahteraan sebagai output yang terukur. Dengan kapasitas 73 kursi dan 14 perjalanan per hari, kereta ini memfasilitasi transaksi ekonomi yang menciptakan nilai tambah di berbagai titik dalam rantai pasok. Setiap Rp3.000 yang dibayar pengguna (ditambah subsidi PSO) menghasilkan multiplier effect berupa peningkatan nilai jual produk, penghematan biaya, dan pertumbuhan omzet yang jauh lebih besar. Return investasi sosial juga terlihat dari pengurangan emisi karbon dibanding distribusi berbasis truk, kontribusi pada ketahanan pangan, dan pemberdayaan ekonomi perdesaan.
Kereta ini melayani 11 stasiun dari Rangkasbitung hingga Merak. Pada hari pertama operasional, 95 pengguna telah mulai menghasilkan return sosial melalui transaksi ekonomi yang difasilitasi. Anne menegaskan, evaluasi dampak ekonomi dan sosial akan dilakukan secara berkala untuk mengukur return investasi sosial secara komprehensif. Dengan memposisikan Kereta Petani dan Pedagang sebagai investasi sosial dengan return berupa kesejahteraan ekonomi rakyat, program ini menunjukkan bahwa transportasi publik harus dipandang tidak hanya dari kacamata bisnis, tetapi juga sebagai investasi strategis untuk pembangunan ekonomi inklusif dan kesejahteraan masyarakat.
(Redaksi)

