Jakarta, 03 November 2025 – PT Kereta Api Indonesia (Persero) kembali berinovasi dengan menghadirkan Kereta Petani dan Pedagang, layanan berbasis rel yang dikembangkan KAI Commuter untuk mempercepat mobilitas hasil pertanian dan perdagangan lokal. Program ini menjadi langkah nyata KAI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang lebih merata.
Kereta yang dirancang oleh Balai Yasa Surabaya Gubeng ini telah menjalani uji lintas perdana pada Agustus 2025 dan siap melangkah menuju tahap implementasi di wilayah Banten. Inovasi ini menandai upaya KAI dalam menghadirkan transportasi publik yang tidak hanya efisien, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat.
Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa layanan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan solusi ekonomi berbasis transportasi.
“Melalui KAI Commuter, kami sedang menyiapkan konsep pengoperasian layanan yang akan membantu petani dan pedagang menjangkau pasar dengan lebih mudah, efisien, dan berbiaya terjangkau. Transportasi berbasis rel berperan penting dalam memperkuat rantai pasok dan mendorong ekonomi daerah,” kata Anne.
Wilayah Banten dipilih karena memiliki potensi ekonomi besar dari sektor pertanian dan perdagangan rakyat. Namun, banyak pelaku usaha menghadapi hambatan dalam mengirim hasil produksi ke pasar akibat keterbatasan transportasi yang efisien.
Kehadiran Kereta Petani dan Pedagang diharapkan mampu mempercepat pergerakan ekonomi lokal, sekaligus memperluas konektivitas antarwilayah. Data KAI Commuter menunjukkan lonjakan penumpang di lintas Rangkasbitung Line, yang menjadi lokasi awal layanan ini.
Selain memfasilitasi petani dan pedagang, layanan ini juga mendorong integrasi antara moda transportasi rel dan logistik darat, sehingga proses distribusi lebih lancar.
“Program ini masih dalam tahap persiapan, dan kami ingin memastikan setiap langkahnya berorientasi pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat ekonomi masyarakat melalui transportasi yang inklusif dan produktif,” ujar Anne. (Redaksi)

