Jakarta, 4 Agustus 2025 – Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Didiek Hartantyo, menegaskan bahwa pemimpin masa kini dituntut untuk lebih adaptif terhadap perubahan dan menjunjung tinggi transparansi. Hal ini menjadi salah satu kunci dalam menciptakan organisasi yang tangguh dan berkelanjutan.

Pernyataan ini disampaikannya dalam Directorship Development Program (DDP) BPJS Ketenagakerjaan yang digelar di Hotel Sheraton, Jakarta. Didiek menekankan bahwa perubahan adalah keniscayaan, dan hanya pemimpin yang terbuka yang bisa menjawab tantangan zaman.

“Setiap krisis adalah panggilan untuk berubah. Dan perubahan sejati harus dimulai dari dalam, dari visi yang menyatukan dan tujuan yang memperkuat,” tegas Didiek, merujuk pada pengalaman KAI saat menghadapi krisis pandemi COVID-19 pada 2020.

Ketika perusahaan mengalami kerugian besar, kepemimpinan yang tanggap, terbuka terhadap inovasi, dan mau mendengar suara dari berbagai pihak menjadi pondasi untuk bangkit. Bagi Didiek, adaptif bukan hanya soal strategi, tetapi sikap mental.

Ia juga menegaskan pentingnya akuntabilitas dalam proses transformasi. Kepemimpinan yang bersandar pada keterbukaan mampu membangun kepercayaan, baik di internal organisasi maupun di mata masyarakat luas.

Transformasi KAI berjalan di semua lini: digitalisasi layanan, inovasi produk, hingga perubahan budaya kerja. Hasilnya, pada 2024 KAI mencatat laba bersih Rp2,2 triliun dan berhasil menggandakan aset perusahaan menjadi Rp97,1 triliun.

Tak kalah penting, indeks kepuasan pelanggan meningkat signifikan, dan skor ESG dari S&P Global menunjukkan peningkatan komitmen terhadap keberlanjutan. Ini merupakan cerminan dari nilai kepemimpinan yang responsif terhadap kebutuhan zaman.

Dalam paparannya, Didiek juga membagikan strategi regenerasi kepemimpinan di KAI. Ia menekankan bahwa pemimpin masa depan harus dibentuk dari dalam organisasi, melalui sistem yang menjunjung nilai pelayanan dan integritas.

“Jabatan bisa diwariskan, tapi makna harus ditemukan dan dihidupi,” katanya, menggarisbawahi bahwa setiap pemimpin perlu memahami peran mereka sebagai penggerak, bukan hanya pengelola.

Kepemimpinan yang terbuka dan adaptif, menurut Didiek, akan mendorong kolaborasi yang lebih kuat serta menciptakan keputusan yang lebih berakar pada kebutuhan nyata masyarakat.

“Real leadership starts with purpose. Kepemimpinan sejati dimulai saat kita tahu untuk apa kita memimpin, untuk siapa kita hadir, dan perubahan apa yang ingin kita ciptakan,” tutupnya. (Redaksi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *