Jakarta, 13 Oktober 2025 – Lebih dari seratus tahun berlalu sejak Stasiun Mrawan pertama kali berdiri di lereng Gunung Gumitir. Namun denyut kehidupannya tak pernah pudar. Dari masa kejayaan perkebunan hingga kini menjadi bagian penting destinasi wisata perkeretaapian, Stasiun Mrawan terus beradaptasi tanpa kehilangan identitas sejarahnya.
Didirikan pada 10 September 1902, Stasiun Mrawan berfungsi sebagai jalur utama pengangkutan hasil bumi dari Jember dan Banyuwangi. Kopi, gula, dan beras menjadi komoditas unggulan yang diangkut melalui stasiun ini, menjadikannya simpul ekonomi yang vital pada zamannya. Perannya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal membuatnya menjadi bagian penting dari sejarah pembangunan wilayah timur Pulau Jawa.
Kini, seiring perkembangan zaman, Mrawan tidak hanya berfungsi sebagai simpul logistik, tetapi juga destinasi wisata yang menawarkan pesona sejarah dan alam. Jalur rel yang melintasi perkebunan PTPN XII menghadirkan pengalaman visual menakjubkan, sementara udara sejuk khas pegunungan menjadikan perjalanan kereta di kawasan ini semakin berkesan.
Terowongan Mrawan, yang dibangun antara tahun 1901–1902 dengan panjang 690 meter, menjadi daya tarik tersendiri. Struktur klasik dan nilai sejarah yang melekat menjadikannya ikon perkeretaapian sekaligus daya tarik wisata yang menarik perhatian banyak penumpang.
Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, menilai bahwa kehadiran Stasiun Mrawan menjadi cerminan nyata transformasi perkeretaapian Indonesia yang mampu beradaptasi tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
“Stasiun Mrawan memperlihatkan bagaimana perkeretaapian hadir sebagai penggerak ekonomi daerah, penghubung mobilitas masyarakat, sekaligus penjaga warisan sejarah bangsa. Kawasan ini memberi pengalaman perjalanan yang bernilai, sekaligus manfaat ekonomi bagi warga di sekitarnya,” ujar Anne.
Dengan menggabungkan nilai sejarah, potensi alam, dan manfaat ekonomi, Stasiun Mrawan kini menjadi contoh harmonisasi antara masa lalu dan masa kini. Ia bukan sekadar stasiun di lereng pegunungan, melainkan simbol transformasi perkeretaapian yang terus berdenyut bagi masyarakat dan daerah sekitarnya. (Redaksi)

