18 Februari 2026 – Nuansa sukacita menyelimuti perayaan Tahun Baru Imlek 2577 di berbagai penjuru Indonesia. Dentuman tambur barongsai, aroma hio yang mengepul, serta wajah-wajah penuh harap menjadi pemandangan khas yang menandai pergantian tahun bagi masyarakat Tionghoa. Di Palembang, kemeriahan itu terasa begitu kuat ketika umat dan warga lintas latar belakang memadati Kelenteng Dewi Kwan Im untuk merayakan Imlek bersama.

Sejak pagi hari, kawasan kelenteng telah dipenuhi umat yang datang untuk mengikuti rangkaian ibadah. Suasana berlangsung khidmat saat doa-doa dipanjatkan sebagai ungkapan syukur atas tahun yang telah dilalui sekaligus permohonan harapan untuk tahun yang baru. Lilin dan hio menyala, menghadirkan nuansa sakral yang menenangkan.

Barongsai Jadi Pusat Perhatian

Kemeriahan semakin terasa ketika atraksi barongsai dimulai di halaman kelenteng. Irama tabuhan tambur, gong, dan simbal menggema, mengiringi gerakan dinamis para pemain barongsai yang meliuk, melompat, dan berakrobat di hadapan ratusan pasang mata. Sorak sorai penonton pecah setiap kali barongsai menampilkan gerakan ekstrem, terutama saat melompat di atas tonggak-tonggak besi yang menjulang.

Tepuk tangan riuh terdengar ketika barongsai berhasil meraih angpao yang digantung tinggi. Aksi tersebut dipercaya sebagai simbol datangnya keberuntungan dan rezeki di tahun yang baru. Bagi banyak warga, pertunjukan barongsai bukan sekadar hiburan, tetapi juga lambang semangat, keberanian, dan optimisme.

Seorang warga Palembang, Lina, mengungkapkan rasa syukurnya bisa kembali merayakan Imlek bersama keluarga di kelenteng. Menurutnya, perayaan tahun ini terasa lebih hidup dan penuh energi positif. Ia juga menilai barongsai menjadi daya tarik yang mampu menghadirkan kegembiraan sekaligus mempererat kebersamaan.

Menariknya, kemeriahan ini tidak hanya dinikmati oleh umat Tionghoa. Banyak masyarakat umum turut hadir untuk menyaksikan pertunjukan dan merasakan atmosfer perayaan. Imlek pun menjelma menjadi ruang perjumpaan budaya yang hangat dan inklusif.

Tradisi Lepas Burung sebagai Simbol Awal Baru

Selain barongsai, perayaan Imlek 2577 di Kelenteng Dewi Kwan Im juga diwarnai tradisi melepas burung pipit. Ritual ini dilakukan setelah rangkaian ibadah selesai dan menjadi salah satu momen yang paling dinantikan. Sejumlah burung pipit yang telah disiapkan dalam sangkar dilepaskan bersama-sama ke udara.

Saat pintu sangkar dibuka, burung-burung kecil itu terbang bebas, disertai tatapan khusyuk dan doa dari umat yang hadir. Tradisi ini dimaknai sebagai simbol membuang kesialan, energi negatif, dan beban kehidupan di tahun sebelumnya, sekaligus membuka lembaran baru yang lebih baik.

Michael, salah satu warga yang rutin mengikuti tradisi ini, menuturkan bahwa melepas burung bukan sekadar ritual simbolik. Baginya, momen tersebut menjadi sarana refleksi diri untuk melepaskan kesalahan, penyesalan, dan beban pikiran yang pernah ada.

Ia menambahkan, harapan yang dilekatkan pada burung-burung yang terbang bebas seolah ikut mengudara, membawa doa agar tahun yang baru dipenuhi kesehatan, kedamaian, dan rezeki yang lancar.

Perayaan Imlek 2577 di Palembang pun menjadi gambaran harmonis antara ibadah, budaya, dan kebersamaan. Di tengah gemerlap barongsai dan ritual penuh makna, Imlek kembali mengingatkan bahwa pergantian tahun bukan hanya soal perayaan, tetapi juga tentang harapan, refleksi, dan semangat memulai hidup dengan hati yang lebih lapang. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *