Jakarta, 6 November 2025 — Transformasi energi ramah lingkungan semakin kuat mewarnai operasi PT Kereta Api Indonesia (Persero) setelah seluruh lokomotif dan genset beralih menggunakan Biosolar B40 sejak Februari 2025. Kebijakan ini menjadi langkah strategis perusahaan untuk menekan emisi sekaligus memperkuat citra logistik berbasis rel sebagai moda transportasi rendah karbon.
Langkah transisi energi ini berjalan beriringan dengan kenaikan volume angkutan batu bara yang mencapai 47.775.610 ton pada Januari–Oktober 2025. Dengan pertumbuhan 4,3% dari periode yang sama tahun lalu, KAI menempatkan efisiensi energi dan keberlanjutan sebagai bagian dari fondasi utama pengembangan layanan logistik.
Vice President Public Relations KAI Anne Purba menyebutkan bahwa angkutan batu bara memainkan peran sentral dalam mendukung kebutuhan listrik nasional. “Batu bara ini sebagian besar digunakan sebagai bahan baku pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Pulau Jawa dan Bali, yang menyuplai listrik ke rumah tangga, menghidupkan fasilitas penting seperti rumah sakit, sekolah, kantor, pusat perbelanjaan, serta mendukung industri dan usaha kecil di seluruh Indonesia,” ujar Anne.
Penggunaan B40 memberikan nilai tambah terhadap proses efisiensi dalam distribusi logistik, sebab bahan bakar ini memiliki tingkat emisi lebih rendah dan lebih ramah lingkungan. Selain itu, B40 memiliki tingkat biodegradasi yang tinggi sehingga mengurangi risiko pencemaran tanah dan air dalam jangka panjang.
KAI menilai penggunaan bahan bakar nabati ini sebagai bagian penting dari strategi jangka panjang untuk memperkuat transportasi massal yang berkelanjutan. Transisi ini tidak hanya mengurangi jejak karbon perusahaan, tetapi juga memperkuat posisi KAI sebagai operator logistik yang mendukung agenda energi hijau pemerintah.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, KAI juga terus melakukan modernisasi infrastruktur logistik untuk mendukung peningkatan volume angkutan. Terminal Tarahan II dan pengembangan fasilitas Kertapati menjadi langkah strategis menghadapi proyeksi lonjakan distribusi batu bara dalam beberapa tahun mendatang.
Dengan kombinasi antara transisi energi, modernisasi infrastruktur, dan peningkatan efisiensi operasional, KAI kini berada dalam jalur penguatan sistem logistik berkelanjutan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan nasional. Upaya ini diproyeksikan membuka peluang pertumbuhan baru sekaligus menjaga ketahanan energi secara berkelanjutan.
Pengoperasian kereta berbasis energi yang lebih ramah lingkungan semakin menegaskan peran KAI dalam transformasi industri logistik Indonesia menuju masa depan yang lebih bersih, efisien, dan hijau. (Redaksi)

