Jakarta, 29 Agustus 2025 – Metodologi analisis risiko yang mendalam menjadi fondasi dalam menentukan prioritas penutupan perlintasan sebidang, memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil didasarkan pada data yang akurat dan analisis yang komprehensif. Proses analisis ini melibatkan evaluasi berbagai faktor risiko, mulai dari aspek teknis, operasional, hingga dampak sosial dan ekonomi.
Tim ahli keselamatan melakukan penilaian sistematis terhadap setiap perlintasan dengan menggunakan matriks risiko yang telah distandarisasi secara nasional. Faktor-faktor seperti frekuensi lalu lintas kereta api, volume kendaraan yang melintasi, kondisi visibilitas, dan riwayat kejadian keselamatan menjadi parameter utama dalam menentukan tingkat risiko masing-masing perlintasan.
Hasil analisis risiko kemudian digunakan untuk menyusun daftar prioritas yang objektif dan terukur, memungkinkan KAI untuk mengalokasikan sumber daya secara efisien dan fokus pada perlintasan-perlintasan yang memberikan dampak keselamatan terbesar jika ditutup. Pendekatan berbasis data ini memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam setiap keputusan yang diambil.
Wakil Presiden Direktur Hubungan Masyarakat KAI, Anne Purba menjelaskan pentingnya pendekatan ilmiah dalam program keselamatan. “Perlintasan sebidang merupakan titik yang rawan terjadi gangguan keselamatan. Karena itu, langkah penutupan yang sesuai regulasi ini kami lakukan untuk melindungi penumpang kereta api sekaligus pengguna jalan,” jelasnya. Analisis risiko yang mendalam ini memastikan bahwa setiap tindakan preventif memberikan manfaat maksimal bagi keselamatan transportasi.
(Redaksi)

