19 September 2026 – Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah muncul fenomena unik yang secara visual menyerupai telur ceplok di bagian kawah. Fenomena tersebut terlihat ketika aktivitas erupsi besar yang terjadi pada 3 September 2026 mulai mereda dan kondisi gunung tampak lebih tenang. Meski tampilannya cukup mencolok, kondisi tersebut bukanlah fenomena misterius, melainkan berkaitan dengan genangan air di kawasan kawah yang mengalami perubahan akibat paparan gas dan material vulkanik.
Fenomena menyerupai telur ceplok tersebut terlihat dalam sebuah rekaman video yang memperlihatkan kondisi Gunung Anak Krakatau setelah erupsi. Dalam rekaman itu, gunung tampak relatif tenang dengan asap putih yang masih keluar dari kawasan kawah. Sebelumnya, erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September menyebabkan abu vulkanik tersebar ke sejumlah wilayah, termasuk Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta, hingga Jawa Barat.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Suwarno, menjelaskan bahwa tampilan yang menyerupai telur ceplok tersebut merupakan genangan air di kawasan kawah yang terkontaminasi gas belerang. Kondisi tersebut dapat menghasilkan perubahan warna pada air sehingga dari kejauhan atau melalui rekaman video terlihat seperti pola tertentu. Fenomena semacam ini dapat muncul sebagai bagian dari proses yang terjadi di lingkungan kawah gunung api setelah aktivitas erupsi.
Menurut Suwarno, genangan air di kawasan Gunung Anak Krakatau berinteraksi dengan gas belerang yang berasal dari aktivitas vulkanik. Interaksi tersebut kemudian membuat air mengalami perubahan karakteristik dan warna. Selain gas belerang, material atau lapisan pada dinding kawah juga dapat memengaruhi tampilan genangan sehingga menghasilkan warna yang terlihat berbeda dari kondisi air biasa.
Meski belerang merupakan unsur yang umum ditemukan di lingkungan gunung api, Suwarno menjelaskan bahwa tampilan seperti telur ceplok tidak otomatis muncul di setiap gunung berapi. Kondisi tersebut bergantung pada karakteristik masing-masing kawah, termasuk keberadaan genangan air dan interaksinya dengan gas serta material vulkanik di sekitarnya. Karena itu, fenomena yang terlihat di Gunung Anak Krakatau memiliki kondisi lingkungan yang mendukung terbentuknya tampilan tersebut.
Kemunculan fenomena tersebut juga terjadi ketika aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai mengalami penurunan. Namun, meredanya erupsi tidak berarti aktivitas vulkanik gunung sepenuhnya berhenti. Pemantauan masih terus dilakukan karena aktivitas kegempaan tetap tercatat di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Pada Jumat, 18 September 2026 dini hari, tercatat sejumlah aktivitas kegempaan di kawasan tersebut. Salah satunya berupa satu kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 12 milimeter dan durasi sekitar lima detik. Selain itu, tercatat pula satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo delapan milimeter dan durasi mencapai 72 detik.
Aktivitas lain yang masih terekam adalah tremor menerus atau microtremor. Rekaman menunjukkan amplitudo berada pada kisaran 0,5 hingga 6 milimeter dengan amplitudo dominan sekitar 2 milimeter. Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun aktivitas erupsi besar telah mereda, sistem vulkanik Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas yang terus dipantau oleh petugas.
Kondisi ini membuat pemantauan Gunung Anak Krakatau tetap diperlukan setelah erupsi besar yang terjadi pada awal September. Pengamatan tidak hanya dilakukan terhadap visual gunung, seperti keluarnya asap dari kawah, tetapi juga mencakup aktivitas kegempaan yang dapat memberikan informasi mengenai kondisi sistem vulkanik di bawah permukaan.
Fenomena air bercampur gas belerang yang terlihat seperti telur ceplok pun menjadi salah satu gambaran perubahan yang terjadi di kawasan kawah setelah aktivitas erupsi. Tampilan tersebut memang menarik perhatian karena bentuk dan warnanya berbeda dari kondisi gunung pada umumnya. Namun, secara vulkanologi, keberadaan genangan air yang berinteraksi dengan gas belerang dan material kawah merupakan penjelasan atas fenomena visual tersebut.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada dalam pemantauan setelah rangkaian aktivitas vulkanik yang terjadi pada September 2026. Masyarakat dan pihak yang beraktivitas di sekitar kawasan gunung tetap perlu memperhatikan informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik. Data kegempaan, kondisi kawah, serta perubahan aktivitas lainnya akan menjadi bagian penting dalam menentukan perkembangan status dan potensi bahaya Gunung Anak Krakatau selanjutnya.
Dengan demikian, fenomena yang disebut sebagai telur ceplok di Gunung Anak Krakatau bukan merupakan tanda munculnya objek atau material asing di kawah. Fenomena tersebut berkaitan dengan genangan air yang terkontaminasi gas belerang serta berinteraksi dengan material pada dinding kawah. Di tengah kondisi erupsi yang telah mereda, aktivitas kegempaan yang masih tercatat menjadi alasan pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau tetap dilakukan secara berkelanjutan. (Redaksi)

