14 September 2026 – Harga cabai kembali menjadi perhatian setelah cabai rawit merah di tingkat konsumen menembus kisaran Rp90.000 per kilogram. Kenaikan tersebut terjadi ketika produksi di sejumlah sentra mengalami gangguan akibat cuaca panas berkepanjangan dan terbatasnya ketersediaan air. Kondisi ini membuat tanaman cabai kesulitan berkembang secara optimal, sementara pasokan dari petani tidak mampu mengimbangi kebutuhan pasar.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, kenaikan juga terjadi pada sejumlah jenis cabai lainnya. Cabai merah keriting tercatat mengalami lonjakan sekitar 9 persen hingga mencapai Rp62.950 per kilogram. Sementara itu, cabai rawit merah naik sekitar 7,2 persen dan berada di kisaran Rp90.050 per kilogram. Pergerakan harga tersebut menunjukkan tekanan pasokan mulai terasa hingga ke tingkat konsumen.
Kenaikan harga sebenarnya telah mulai dirasakan di tingkat petani sejak pertengahan Agustus 2026. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan cuaca yang sangat panas dan minimnya ketersediaan air di sejumlah wilayah sentra produksi. Ketika sumber air semakin terbatas, tanaman cabai yang sudah ditanam menjadi sulit mendapatkan suplai yang dibutuhkan untuk mempertahankan produktivitas.
Cuaca ekstrem tidak hanya mengurangi jumlah tanaman yang dapat dipanen, tetapi juga menghambat proses pembentukan bunga baru. Tanaman cabai yang mengalami kekurangan air berisiko mengalami gagal bunga sehingga tidak mampu menghasilkan buah dalam jumlah normal. Akibatnya, petani kini lebih banyak mengandalkan tanaman yang masih bertahan dan sedang memasuki masa produksi.
Persoalan semakin rumit karena penanaman kembali juga menghadapi kendala. Bibit cabai yang baru ditanam membutuhkan pasokan air yang cukup agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Ketika kondisi lahan masih kering dan sumber air terbatas, peluang keberhasilan penanaman baru ikut menurun. Situasi tersebut berpotensi menekan produksi nasional apabila berlangsung dalam waktu yang lebih panjang.
Kekhawatiran terhadap pasokan cabai nasional pun meningkat karena dampak cuaca diperkirakan masih terasa dalam beberapa bulan mendatang. Apabila produksi dari sentra utama terus menurun, stok yang tersedia di pasar dapat semakin terbatas. Kondisi ini berpotensi mempertahankan harga tinggi hingga pasokan dari wilayah lain mulai kembali normal.
Pemerintah sebenarnya telah mulai mengambil langkah untuk membantu petani menghadapi keterbatasan air. Sejumlah dukungan berupa pembangunan sumur bor dan pipanisasi mulai diarahkan ke wilayah sentra produksi cabai. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat membantu petani mempertahankan tanaman yang sedang berproduksi sekaligus menyediakan sumber air untuk penanaman berikutnya.
Produksi di Sejumlah Sentra Menurun
Gangguan produksi juga terjadi di sejumlah daerah penghasil cabai. Beberapa wilayah di Jawa Timur seperti Jombang, Kediri, dan Blitar masih menghasilkan panen, tetapi volumenya disebut belum cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pasar secara optimal. Kondisi tersebut membuat pasokan dari sentra produksi belum mampu memberikan tekanan berarti terhadap harga di tingkat konsumen.
Dampak cuaca terhadap produksi diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026. Pada periode tersebut, volume panen berpotensi tetap terbatas karena petani masih menghadapi kondisi lahan yang kering dan kendala dalam melakukan penanaman baru. Pasokan diperkirakan mulai lebih mencukupi pada November apabila kondisi produksi kembali membaik.
Tekanan harga terlihat dari perbedaan harga di setiap rantai distribusi. Di tingkat petani, cabai saat ini berada pada kisaran Rp53.000 hingga Rp65.000 per kilogram. Setelah masuk ke pasar induk, harganya dapat meningkat menjadi sekitar Rp70.000 hingga Rp75.000 per kilogram. Di tingkat konsumen akhir, harga kemudian dapat mencapai Rp90.000 hingga Rp95.000 per kilogram.
Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana terbatasnya produksi di tingkat hulu dapat memberikan efek berantai hingga ke pasar. Ketika pasokan dari petani berkurang, pedagang dan pasar induk harus memperoleh cabai dari sumber yang lebih terbatas. Biaya distribusi dan persaingan mendapatkan stok kemudian turut memengaruhi harga yang harus dibayar konsumen.
Selain faktor cuaca dan ketersediaan air, terdapat sejumlah persoalan lain yang turut memengaruhi produksi cabai. Dalam pembahasan antara pemerintah dan petani, faktor seperti kemarau berkepanjangan, serangan organisme pengganggu tanaman seperti trips dan kutu kebul, serta perubahan pilihan komoditas atau alih tanam turut menjadi perhatian.
Pemerintah Siapkan Distribusi dari Daerah Surplus
Untuk menekan gejolak harga, pemerintah menyiapkan strategi distribusi stok dari wilayah yang memiliki pasokan berlebih menuju daerah yang mengalami kekurangan. Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Mekanisme ini memungkinkan pasokan dari sentra produksi tertentu dikirim ke daerah yang mengalami kenaikan harga sehingga tekanan terhadap konsumen dapat dikurangi.
Strategi tersebut dinilai penting karena kondisi produksi cabai tidak seragam di seluruh Indonesia. Ketika satu wilayah mengalami penurunan produksi akibat cuaca, daerah lain masih dapat memiliki stok yang relatif mencukupi. Mobilisasi pasokan antardaerah menjadi salah satu cara untuk mengurangi kesenjangan tersebut tanpa harus menunggu seluruh sentra produksi kembali normal.
Pemerintah juga dapat melibatkan petani Champion Cabai yang selama ini dibina untuk membantu proses distribusi. Petani dari daerah dengan harga dan ketersediaan yang relatif lebih baik dapat menjadi bagian dari upaya memasok wilayah yang sedang mengalami kenaikan harga. Kolaborasi tersebut diharapkan membuat distribusi lebih cepat sekaligus menjaga agar harga di tingkat konsumen tidak semakin tinggi.
Program FDP sebelumnya telah digunakan untuk memobilisasi cabai rawit dari daerah surplus. Pada triwulan pertama 2026, total cabai rawit yang dimobilisasi melalui program tersebut mencapai 5.590 kilogram. Pasokan tersebut antara lain berasal dari Enrekang, Sulawesi Selatan, yang dikirim ke Pasar Induk Kramat Jati di Jakarta sebanyak 3.150 kilogram, serta ke Lombok Tengah dan Lombok Timur di Nusa Tenggara Barat masing-masing sebanyak 1.140 kilogram dan 1.300 kilogram.
Distribusi pasokan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan stok antardaerah dapat menjadi salah satu instrumen untuk meredam fluktuasi harga. Ketika pasokan dari wilayah produksi dapat segera dialihkan ke daerah yang membutuhkan, tekanan akibat kelangkaan dapat dikurangi. Langkah seperti ini menjadi semakin penting ketika produksi nasional menghadapi gangguan yang sifatnya musiman.
Produksi Nasional Masih Dipantau
Di tengah kenaikan harga di pasar, pemerintah memastikan produksi cabai rawit secara nasional masih menjadi perhatian dan dinilai cukup untuk mendukung kebutuhan hingga akhir tahun. Produksi September diperkirakan mencapai sekitar 119 ribu ton. Sejumlah wilayah di Jawa Timur juga masih memiliki area tanaman yang cukup luas dan berpotensi menghasilkan panen dalam waktu mendatang.
Selain Jawa Timur, sentra produksi di Jawa Tengah juga menjadi salah satu wilayah yang diharapkan mampu memperkuat pasokan. Temanggung, Brebes, dan Magelang menjadi beberapa daerah yang dipantau karena memiliki potensi produksi. Meski sebagian tanaman masih berada pada fase awal pertumbuhan, panen dari wilayah tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan ketika permintaan meningkat.
Pemerintah juga perlu mengantisipasi potensi kenaikan permintaan menjelang periode Natal dan Tahun Baru. Momen tersebut biasanya menjadi salah satu periode penting bagi pergerakan harga pangan karena konsumsi masyarakat dapat mengalami peningkatan. Kesiapan produksi dan distribusi sejak jauh hari menjadi faktor penting untuk mencegah gangguan pasokan kembali mendorong harga cabai ke level yang lebih tinggi.
Dengan kondisi tersebut, stabilisasi harga cabai tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan menjaga distribusi. Bantuan infrastruktur air di tingkat petani, pengendalian organisme pengganggu tanaman, pengaturan pola tanam, serta mobilisasi stok antardaerah perlu dilakukan secara bersamaan. Jika langkah tersebut berjalan efektif, pasokan diharapkan mulai membaik setelah periode gangguan produksi berlalu.
Untuk sementara, konsumen masih harus menghadapi harga cabai yang relatif tinggi akibat terbatasnya pasokan dari sejumlah sentra produksi. Pemerintah berharap perbaikan kondisi produksi dan distribusi dapat secara bertahap menurunkan tekanan harga. Perkembangan pasokan dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu apakah harga cabai dapat kembali ke tingkat yang lebih stabil atau justru mengalami kenaikan lanjutan. (Redaksi)

