23 Agustus 2026 – Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, dengan luas area terdampak yang telah mencapai sekitar 673,4 hektare. Hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, api masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan dan dilaporkan terus merembet dari titik awal menuju kawasan Rawa Mbah Sapon atau Grid 7S. Kondisi medan yang sulit, lahan bergambut, angin kencang, serta keterbatasan akses kendaraan membuat proses pemadaman berlangsung jauh lebih berat dibandingkan penanganan kebakaran di kawasan yang mudah dijangkau.
Kebakaran terjadi di kawasan Jati 3, Resort Kuala Penet, SPTN Wilayah III Kuala Penet, Kecamatan Braja Selebah. Api pertama kali diketahui pada Jumat, 21 Agustus 2026, siang dan hingga keesokan harinya masih menunjukkan aktivitas. Petugas gabungan terus berupaya menahan pergerakan api agar tidak meluas ke kawasan konservasi lainnya. Namun, kobaran yang cukup besar dan kondisi angin yang kencang membuat upaya pengendalian api menjadi semakin sulit.
Medan Sulit Hambat Proses Pemadaman
Salah satu kendala terbesar dalam penanganan kebakaran adalah lokasi titik api yang tidak dapat dijangkau kendaraan. Petugas terpaksa berjalan kaki untuk menuju area yang terbakar sambil membawa peralatan pemadaman secara manual. Kondisi tersebut membuat proses penanganan membutuhkan waktu lebih lama dan membatasi jumlah peralatan yang dapat dibawa langsung ke lokasi kebakaran.
Peralatan yang digunakan di lapangan juga masih mengandalkan perlengkapan manual, seperti tangki semprot dan gepyok kayu. Dengan luas kebakaran yang mencapai ratusan hektare, penggunaan peralatan tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi personel. Petugas harus bekerja secara bertahap untuk memadamkan titik api sekaligus mencegah bara dan kobaran menyebar mengikuti arah angin.
Kondisi lahan gambut turut memperumit upaya pemadaman. Api pada kawasan bergambut tidak selalu hanya membakar permukaan tanah, tetapi dapat menjalar melalui lapisan organik di bawah permukaan. Situasi tersebut membuat titik api berpotensi kembali muncul meskipun kobaran di permukaan telah berhasil dikurangi. Jarak sumber air yang cukup jauh dari lokasi kebakaran juga membuat pasokan air menjadi persoalan penting dalam proses pemadaman.
Puluhan Personel Dikerahkan
Untuk menangani kebakaran tersebut, tim gabungan mengerahkan 29 personel ke lokasi. Mereka terdiri atas 14 personel Polisi Kehutanan dan Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan, 10 personel dari Polsek Braja Selebah, serta lima personel TNI dari Koramil Way Jepara.
Para personel tersebut bekerja untuk memadamkan api sekaligus mengendalikan penyebaran kebakaran. Dalam kondisi medan yang sulit, sebagian petugas harus berjalan kaki menuju titik api karena kendaraan tidak dapat masuk. Mereka juga harus menyesuaikan strategi berdasarkan arah angin dan perkembangan kobaran di lapangan.
Kebakaran yang mencapai 673,4 hektare menjadi tantangan besar bagi tim gabungan karena luas wilayah yang harus dipantau sangat besar. Selain memadamkan api yang terlihat, petugas juga perlu memastikan tidak ada bara atau titik panas yang dapat kembali memicu kebakaran. Pemantauan setelah pemadaman menjadi penting terutama di kawasan gambut yang memiliki potensi menyimpan panas di bawah permukaan.
Gajah Liar Dipastikan Masih Aman
Di tengah kebakaran yang terjadi di kawasan konservasi tersebut, kondisi satwa liar juga menjadi perhatian. Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu kawasan penting bagi keberadaan gajah liar sehingga perkembangan api perlu dipantau agar tidak mengarah ke habitat satwa tersebut.
Hingga Sabtu siang, belum terdapat laporan mengenai gajah liar yang terdampak langsung oleh kebakaran. Keberadaan kelompok gajah liar masih terpantau di bagian utara kawasan TNWK, atau berada di lokasi yang tidak terdampak langsung oleh kobaran api. Kondisi tersebut menjadi kabar penting di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung.
Meski belum ada laporan satwa terdampak, petugas tetap perlu mengawasi pergerakan api secara ketat. Kebakaran yang terus meluas dapat mengubah kondisi habitat dan memengaruhi ketersediaan pakan serta ruang jelajah satwa. Karena itu, pengendalian kebakaran menjadi penting bukan hanya untuk menghentikan kerusakan vegetasi, tetapi juga untuk menjaga ekosistem yang menjadi habitat berbagai satwa liar.
Api Masih Berpotensi Meluas
Kondisi angin menjadi salah satu faktor yang menentukan perkembangan kebakaran. Kobaran api yang besar dapat dengan cepat bergerak mengikuti arah angin, terutama ketika vegetasi di sekitarnya berada dalam kondisi kering. Situasi tersebut membuat tim harus terus memantau perubahan arah api dan menentukan titik yang menjadi prioritas penanganan.
Selain angin, karakteristik kawasan yang didominasi lahan bergambut membuat kebakaran membutuhkan penanganan yang lebih intensif. Api dapat menyebar secara perlahan di bawah permukaan dan sulit terdeteksi secara langsung. Jika tidak ditangani secara menyeluruh, bara yang masih tersisa dapat kembali memunculkan api ketika kondisi lingkungan mendukung.
Jarak antara sumber air dan lokasi kebakaran juga menjadi kendala yang cukup serius. Tim pemadam membutuhkan pasokan air untuk menangani api, sementara medan yang sulit membuat pengangkutan air menuju lokasi menjadi tidak mudah. Dalam situasi seperti ini, koordinasi antara berbagai unsur menjadi sangat penting agar peralatan dan personel dapat digunakan secara efektif.
Ancaman terhadap Ekosistem Way Kambas
Kebakaran di kawasan taman nasional memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan kebakaran pada lahan biasa. Way Kambas merupakan kawasan konservasi yang memiliki ekosistem penting bagi berbagai jenis flora dan fauna. Kerusakan vegetasi akibat kebakaran dapat mengurangi habitat dan sumber makanan bagi satwa, sementara asap yang dihasilkan juga dapat memengaruhi kondisi lingkungan di sekitar kawasan.
Dampak kebakaran juga dapat berlangsung setelah api berhasil dipadamkan. Vegetasi membutuhkan waktu untuk pulih, sementara kawasan yang terbakar berat dapat mengalami perubahan struktur ekosistem. Pada lahan gambut, kebakaran bahkan dapat meninggalkan persoalan lingkungan yang lebih panjang apabila kerusakan lapisan tanah dan hilangnya kelembapan tidak segera dipulihkan.
Karena itu, penanganan kebakaran tidak hanya berfokus pada pemadaman api. Setelah kondisi dinyatakan aman, pemantauan titik panas, pemulihan kawasan terdampak, serta evaluasi penyebab kebakaran menjadi bagian penting dari upaya menjaga kawasan konservasi.
Pemadaman Terus Dilakukan
Hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, tim gabungan masih berupaya mengendalikan kebakaran di Resort Kuala Penet. Petugas harus menghadapi kombinasi sejumlah faktor yang menyulitkan, mulai dari kobaran api yang besar, angin kencang, medan yang sulit dilalui, lahan bergambut, hingga sumber air yang berada cukup jauh.
Kondisi tersebut membuat pemadaman membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Tim di lapangan terus berusaha mencegah api menyebar lebih jauh sambil mempertahankan pengawasan terhadap wilayah yang sudah berhasil ditangani. Perkembangan kebakaran akan sangat bergantung pada kondisi cuaca dan kemampuan petugas mengendalikan titik api yang masih aktif.
Dengan luas area terbakar yang telah mencapai 673,4 hektare, kebakaran Way Kambas menjadi salah satu persoalan serius bagi kawasan konservasi di Lampung Timur. Perlindungan terhadap habitat satwa, terutama gajah liar, menjadi bagian penting dari penanganan. Selama api masih belum sepenuhnya padam, upaya pemadaman dan pemantauan harus terus dilakukan untuk mencegah kerusakan meluas dan memastikan kawasan konservasi dapat kembali berada dalam kondisi aman. (Redaksi)

