Suhu Ekstrem Ubah Ritme Pertanian Jepang, Petani Mulai Bekerja Saat Tengah Malam

23 Agustus 2026 – Ketika sebagian besar orang Jepang memilih berlindung dari teriknya musim panas, sebagian petani justru baru mulai bekerja. Suhu yang semakin tinggi membuat aktivitas bertani pada siang hari menjadi semakin berbahaya, sehingga sejumlah petani menggeser jam kerja ke pagi buta, sore, bahkan tengah malam. Perubahan tersebut bukan lagi sekadar penyesuaian terhadap cuaca, tetapi menjadi strategi untuk menghindari risiko heatstroke, menjaga produktivitas, serta melindungi tanaman dan ternak dari tekanan panas yang semakin berat.

Perubahan pola kerja mulai terlihat di sejumlah kawasan pertanian Jepang yang menghadapi suhu musim panas ekstrem. Para petani berusaha menghindari periode ketika suhu berada pada titik tertinggi dengan memindahkan pekerjaan yang sebelumnya dilakukan pada siang hari ke waktu yang lebih sejuk. Aktivitas seperti memanen, memberi makan ternak, hingga merawat tanaman kini harus disesuaikan dengan kondisi cuaca. Bagi para pekerja pertanian, waktu yang tersedia untuk bekerja dengan aman semakin terbatas ketika suhu terus meningkat.

Salah satu petani yang melakukan perubahan tersebut adalah Motoaki Iijima di Nikko, Prefektur Tochigi. Sekitar satu dekade lalu, Iijima mengubah sawah milik keluarganya menjadi lahan untuk membudidayakan bunga. Namun, pola kerja di perkebunannya berubah setelah seorang pekerja mengalami heatstroke ketika memanen bunga matahari beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, Iijima mulai mengatur aktivitas pekerja agar tidak dilakukan pada periode terpanas.

Masalahnya menjadi semakin serius ketika suhu udara mencapai lebih dari 35 derajat Celsius. Kondisi di dalam rumah kaca tempat tanaman dibudidayakan bahkan dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius. Lingkungan seperti itu membuat pekerjaan fisik menjadi jauh lebih berat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas. Karena itu, Iijima dan para pekerjanya mulai memilih waktu malam atau menjelang dini hari untuk melakukan sejumlah pekerjaan di lahan.

Bekerja Saat Matahari Belum Terbit

Bagi para petani, perubahan jam kerja merupakan bentuk adaptasi yang relatif sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap keselamatan. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan setelah matahari terbit kini harus dimulai sedini mungkin sebelum suhu meningkat. Sebagian aktivitas bahkan dilakukan setelah matahari terbenam agar pekerja dapat memanfaatkan kondisi udara yang lebih rendah.

Situasi tersebut membuat kehidupan petani semakin menyerupai pola kerja malam. Waktu senja menjadi sangat berharga karena suhu biasanya mulai turun, sementara malam hari menawarkan kondisi yang lebih aman untuk melakukan pekerjaan fisik. Perubahan ini juga menunjukkan bahwa kenaikan suhu dapat mengubah rutinitas kerja secara fundamental, terutama pada sektor yang sebagian besar aktivitasnya berlangsung di ruang terbuka.

Ancaman panas menjadi semakin serius karena sebagian besar tenaga kerja pertanian Jepang berasal dari kelompok usia lanjut. Sekitar 70 persen petani di negara tersebut berusia 65 tahun atau lebih. Kelompok usia tersebut lebih rentan terhadap tekanan panas sehingga aktivitas fisik dalam kondisi suhu ekstrem membutuhkan perhatian lebih besar.

Kelembapan tinggi juga dapat memperburuk situasi. Dalam kondisi panas dan lembap, keringat lebih sulit menguap sehingga mekanisme alami tubuh untuk membuang panas menjadi kurang efektif. Jika tubuh tidak mampu melepaskan panas secara memadai, suhu inti tubuh dapat meningkat dan memicu kelelahan akibat panas hingga heatstroke yang dapat mengancam keselamatan.

Puluhan Petani Meninggal Akibat Panas

Dampak suhu ekstrem terhadap pekerja pertanian Jepang telah terlihat dalam data keselamatan kerja. Pada 2024, sebanyak 59 pekerja sektor pertanian dilaporkan meninggal akibat paparan panas ekstrem. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan angka yang tercatat pada 2021. Data tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan suhu bukan hanya persoalan kenyamanan, tetapi telah menjadi risiko keselamatan kerja yang nyata.

Survei terhadap petani juga menunjukkan semakin banyak pekerja yang mengalami atau mengenal orang yang mengalami heatstroke. Hampir 60 persen petani berusia 20 hingga 50 tahun yang menjadi responden survei mengaku pernah mengalami kondisi tersebut secara langsung atau mengetahui seseorang yang mengalaminya. Temuan ini menunjukkan bahwa risiko panas tidak hanya dirasakan oleh petani lanjut usia, tetapi juga pekerja dari kelompok usia yang lebih muda.

Perubahan jam kerja pun semakin banyak dilakukan. Hampir 60 persen petani dalam survei tersebut mengatakan mereka memindahkan aktivitas pertanian ke pagi hari yang lebih awal atau sore hingga malam. Dengan cara ini, mereka berusaha menghindari jam ketika suhu mencapai tingkat tertinggi dan risiko paparan panas menjadi lebih besar.

Bagi petani, perubahan tersebut berarti harus bekerja dengan waktu yang semakin terbatas. Pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar harus diselesaikan sebelum matahari terlalu tinggi atau setelah suhu mulai turun. Jika suhu meningkat lebih cepat dari perkiraan, waktu aman untuk bekerja di lahan juga semakin pendek.

Panas Ekstrem Menimbulkan Kerugian Ekonomi

Dampak gelombang panas tidak berhenti pada persoalan kesehatan pekerja. Sektor pertanian juga menghadapi kerugian ekonomi karena produktivitas menurun ketika pekerja tidak dapat beraktivitas dalam waktu normal. Data mengenai dampak panas menunjukkan bahwa pada 2024, sektor pertanian Jepang kehilangan sekitar 926 juta jam kerja yang seharusnya dapat digunakan untuk menjalankan aktivitas produksi.

Jika seluruh sektor ekonomi diperhitungkan, jumlah jam kerja yang hilang akibat panas bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan rata rata pada dekade 1990 an. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan diperkirakan mencapai sekitar US$46 miliar atau setara dengan sekitar 1 persen dari produk domestik bruto Jepang.

Angka tersebut menunjukkan bahwa panas ekstrem telah berkembang menjadi persoalan ekonomi yang lebih luas. Ketika pekerja tidak dapat bekerja secara aman selama periode tertentu, produktivitas menurun. Di sektor pertanian, dampaknya dapat merembet ke jadwal panen, kualitas hasil produksi, kebutuhan tenaga kerja, serta biaya tambahan untuk menjaga tanaman dan hewan tetap bertahan dalam kondisi ekstrem.

Peternakan Ayam Juga Menghadapi Ancaman

Gelombang panas tidak hanya berdampak pada manusia. Hewan ternak juga mengalami tekanan ketika suhu lingkungan meningkat. Salah satu contohnya terjadi pada peternakan ayam milik Tetsuya Usuba. Sekitar enam tahun lalu, peternak tersebut kehilangan lebih dari 500 ayam petelur dalam kurun waktu tiga hari ketika suhu meningkat sangat tinggi.

Sejak kejadian tersebut, Usuba menerapkan sejumlah langkah untuk membantu ayam menghadapi suhu panas. Dua kandang miliknya kini menggunakan sistem pencahayaan otomatis yang dinyalakan sekitar pukul 02.30. Lampu tersebut membuat sekitar 4.400 ayam mulai aktif dan makan lebih awal, sebelum suhu siang hari meningkat dan menyebabkan nafsu makan mereka menurun.

Selain mengubah waktu makan, Usuba menambah kipas di kandang dan menyemprotkan air pada bagian atap untuk membantu menurunkan suhu. Berbagai upaya tersebut dilakukan agar kondisi lingkungan di dalam kandang tetap berada pada tingkat yang lebih aman. Namun, strategi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko.

Ketika suhu kembali menembus 35 derajat Celsius pada bulan sebelumnya, peternakan tersebut masih kehilangan sekitar 130 ekor ayam. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan panas dapat menjadi ancaman serius bagi industri peternakan, terutama ketika suhu ekstrem berlangsung dalam periode yang panjang atau terjadi secara tiba tiba.

Tubuh Manusia Kesulitan Membuang Panas

Secara alami, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk menjaga suhu inti tetap stabil. Ketika suhu lingkungan meningkat, pembuluh darah di dekat permukaan kulit melebar dan tubuh menghasilkan keringat. Penguapan keringat kemudian membantu membawa panas keluar dari tubuh sehingga suhu internal dapat tetap berada dalam batas yang aman.

Namun, mekanisme tersebut memiliki keterbatasan. Ketika suhu dan kelembapan lingkungan terlalu tinggi, keringat tidak dapat menguap secara efektif. Akibatnya, tubuh kesulitan melepaskan panas meskipun produksi keringat meningkat. Jika kondisi tersebut berlangsung terlalu lama, suhu inti tubuh dapat naik dan menyebabkan gangguan akibat panas.

Karena itu, keputusan petani Jepang untuk bekerja pada malam atau dini hari bukan sekadar upaya mencari kenyamanan. Perubahan tersebut merupakan strategi keselamatan untuk mengurangi durasi paparan panas pada saat kondisi lingkungan berada pada tingkat paling berbahaya.

Fenomena Serupa Mulai Terjadi di Negara Lain

Perubahan pola kerja akibat panas ekstrem juga mulai terlihat di berbagai negara. Petani di sejumlah wilayah Vietnam, misalnya, menggeser aktivitas pertanian ke pagi atau malam untuk menghindari suhu siang yang terlalu tinggi. Pekerja perkebunan anggur di Spanyol juga melakukan penyesuaian serupa ketika menghadapi periode panas ekstrem.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim dan peningkatan suhu ekstrem dapat memengaruhi pola kerja di sektor pertanian secara global. Aktivitas yang selama ini mengikuti siklus siang dan malam harus disesuaikan dengan kondisi suhu. Ketika siang hari menjadi terlalu panas untuk bekerja secara aman, pagi dan malam berubah menjadi periode produktivitas baru.

Jepang sendiri mulai memperkuat kebijakan untuk menghadapi risiko tersebut. Sejak 2025, aturan keselamatan kerja yang baru mewajibkan pemberi kerja memiliki prosedur pelaporan kasus heatstroke serta rencana penanganan keadaan darurat. Kebijakan tersebut dirancang untuk meningkatkan kesiapan ketika pekerja mengalami gangguan kesehatan akibat paparan panas.

Teknologi Ikut Digunakan untuk Mengurangi Paparan Panas

Selain mengubah jam kerja, sektor pertanian Jepang juga mulai memanfaatkan teknologi untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga manusia dalam kondisi panas. Penggunaan drone dan robot menjadi salah satu opsi untuk mengambil alih pekerjaan tertentu yang sebelumnya membutuhkan pekerja berada di lapangan dalam waktu lama.

Teknologi pertanian cerdas dapat membantu mengurangi paparan panas sekaligus mempertahankan produktivitas. Namun, penerapannya membutuhkan investasi dan tidak selalu mudah dilakukan oleh semua petani. Karena itu, perubahan waktu kerja tetap menjadi salah satu solusi yang paling mudah diterapkan dalam jangka pendek.

Rumah kaca yang biasanya aktif pada siang hari mulai digunakan dengan pola yang berbeda. Lampu dinyalakan pada malam hari agar kegiatan budidaya tetap dapat berlangsung, sementara aktivitas panen dilakukan sebelum matahari terlalu terik. Di sektor peternakan, jadwal pemberian pakan juga disesuaikan dengan kondisi suhu agar hewan tidak terlalu tertekan oleh panas.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa suhu ekstrem tidak lagi hanya menjadi angka dalam laporan cuaca. Ketika panas menjadi lebih sering dan intens, dampaknya dapat masuk langsung ke dalam rutinitas manusia, kesehatan pekerja, perilaku hewan, produktivitas tanaman, hingga perhitungan ekonomi sebuah industri.

Bagi para petani Jepang, persoalannya kini semakin sederhana sekaligus serius. Mereka harus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang berubah dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin ketika suhu masih memungkinkan untuk bekerja. Pekerjaan yang dahulu dilakukan pada siang hari kini harus diselesaikan sebelum matahari terlalu tinggi atau ketika malam telah tiba. Dengan demikian, perubahan jam kerja menjadi salah satu gambaran nyata mengenai bagaimana panas ekstrem mulai mengubah cara manusia menjalankan aktivitas pertanian. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *