Ratusan Ribu Siswa Baru di Jawa Barat Tutup MPLS 2026 dengan Gerakan Peduli Lingkungan

24 Juli 2026 – Sebanyak 343.374 peserta didik baru jenjang SMA, SMK, dan SLB di Jawa Barat menutup rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Pancawaluya 2026 melalui aksi peduli lingkungan yang digelar secara serentak di berbagai daerah. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi penutup masa orientasi sekolah, tetapi juga menjadi langkah awal dalam menanamkan karakter, kepedulian sosial, dan kesadaran menjaga kelestarian lingkungan kepada para siswa.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat memusatkan kegiatan penutupan MPLS di kawasan Taman Makam Pahlawan Cikutra, Kota Bandung. Sementara itu, aksi serupa juga dilaksanakan secara bersamaan di 882 sekolah negeri dengan pusat kegiatan yang tersebar di 27 kabupaten dan kota. Dari total peserta yang mengikuti kegiatan, sebanyak 327.604 siswa berasal dari sekolah negeri, sedangkan sisanya merupakan peserta didik dari sekolah swasta.

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menegaskan bahwa aksi ekologi bukan sekadar kegiatan seremonial untuk mengakhiri MPLS. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan simbol dimulainya pembentukan karakter yang harus terus diterapkan dalam kehidupan sehari hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Ia mengajak seluruh peserta didik membangun kebiasaan positif sejak dini melalui berbagai aktivitas sederhana di rumah. Kegiatan seperti membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, membantu orang tua bekerja, hingga menjaga kebersihan lingkungan dinilai mampu melatih sikap mandiri, disiplin, tanggung jawab, serta kepemimpinan.

Herman juga menekankan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik semata. Karakter yang kuat, kemampuan bekerja sama, kepedulian terhadap sesama, dan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari hari merupakan bekal penting yang akan mendukung kesuksesan di masa depan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto menjelaskan bahwa aksi ekologi menjadi bagian dari implementasi pendidikan karakter Pancawaluya yang diharapkan berkembang menjadi budaya di seluruh satuan pendidikan. Menurutnya, pembelajaran mengenai kepedulian terhadap lingkungan harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak berhenti setelah kegiatan MPLS selesai.

Purwanto menyampaikan bahwa budaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal paling sederhana, seperti menjaga kebersihan diri, merawat ruang kelas, membersihkan halaman sekolah, hingga ikut menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Kebiasaan tersebut diharapkan menjadi bagian dari kehidupan para siswa selama menempuh pendidikan.

Pelaksanaan aksi ekologi melibatkan berbagai pihak melalui kerja sama dengan komunitas peduli lingkungan, perangkat pemerintah daerah, TNI, Polri, serta sejumlah organisasi masyarakat. Kolaborasi tersebut bertujuan memperkuat edukasi mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam sekaligus membangun semangat gotong royong di kalangan peserta didik.

Dalam kegiatan tersebut, para siswa mengikuti beragam aksi nyata, mulai dari membersihkan kawasan sekolah, melakukan operasi semut untuk memungut sampah, merawat lingkungan sekitar, membersihkan aliran sungai, hingga menjaga kebersihan kawasan Taman Makam Pahlawan sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan. Selain itu, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pelestarian lingkungan dari berbagai komunitas yang bergerak di bidang kebersihan dan konservasi.

Selain dipusatkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, sejumlah kegiatan juga berlangsung di SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung bersama komunitas Pandawara Group. Di berbagai sekolah lain di Jawa Barat, siswa melaksanakan aksi serupa yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan di masing masing wilayah.

Melalui penutupan MPLS yang dikemas dalam aksi ekologi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap semangat menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda. Nilai nilai karakter Pancawaluya yang meliputi Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer diharapkan tidak hanya menjadi materi pembelajaran, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku sehari hari sebagai bekal menghadapi masa depan. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *