18 Juli 2026 – Musim kemarau yang melanda wilayah Bogor mulai menunjukkan dampak nyata terhadap kondisi Sungai Ciliwung. Debit air yang terus menyusut membuat tinggi muka air di Bendung Katulampa turun hingga mencapai nol sentimeter selama beberapa hari terakhir. Kondisi yang jarang terjadi ini memperlihatkan perubahan drastis pada salah satu titik pemantauan banjir terpenting di kawasan hulu Sungai Ciliwung dan menjadi gambaran kuat mengenai pengaruh minimnya curah hujan terhadap ketersediaan sumber daya air.
Petugas Bendung Katulampa menyebutkan bahwa penurunan tinggi muka air sudah berlangsung sejak dua hari terakhir dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Tidak adanya hujan dalam waktu yang cukup lama di kawasan hulu membuat aliran air menuju Bendung Katulampa terus berkurang. Situasi tersebut menyebabkan permukaan air yang biasanya mengalir deras kini hampir menghilang sepenuhnya.
Menyusutnya debit Sungai Ciliwung membuat dasar sungai terlihat dengan sangat jelas. Batu-batu besar yang selama ini tertutup aliran air kini muncul ke permukaan, sementara aliran sungai hanya menyisakan genangan kecil di beberapa titik di bawah struktur bendung. Pemandangan ini sangat berbeda dibandingkan saat musim hujan, ketika arus Sungai Ciliwung dikenal deras dan sering mengalami peningkatan debit yang signifikan.
Selain memperlihatkan dasar sungai, kondisi surut juga mengungkap tumpukan sedimen yang selama ini berada di dasar aliran. Endapan lumpur dan material lainnya menjadi lebih mudah terlihat sehingga membuka peluang untuk melakukan kegiatan pembersihan sungai. Petugas menyebutkan bahwa kerja bakti bersama warga dan berbagai komunitas kemungkinan akan kembali dilakukan guna mengangkat sedimen tersebut agar kapasitas aliran sungai tetap terjaga ketika musim hujan kembali datang.
Menurut petugas di Bendung Katulampa, kawasan hulu Sungai Ciliwung di wilayah Puncak Bogor sudah cukup lama tidak diguyur hujan. Intensitas hujan yang terus menurun sejak memasuki bulan Juni menyebabkan pasokan air menuju bendung berkurang secara bertahap. Bahkan dalam sepekan terakhir, wilayah hulu dilaporkan belum menerima hujan sama sekali sehingga debit air terus mengalami penurunan.
Kondisi tersebut merupakan salah satu dampak langsung dari musim kemarau yang kini berlangsung di sejumlah wilayah Jawa Barat. Berkurangnya curah hujan membuat pasokan air dari daerah resapan tidak mampu menjaga volume aliran Sungai Ciliwung seperti biasanya. Akibatnya, tinggi muka air di Bendung Katulampa yang selama ini menjadi indikator penting dalam pemantauan banjir Jakarta mengalami penurunan hingga menyentuh titik terendah.
Di tengah kondisi tersebut, pengelola bendung tetap berupaya menjaga keberlangsungan ekosistem sungai melalui pengaturan distribusi air. Debit air yang masih tersedia diprioritaskan untuk dialirkan menuju Kali Baru melalui saluran irigasi yang berada di sisi Bendung Katulampa. Langkah ini dilakukan agar aliran sungai tetap terjaga dan tidak mengalami kekeringan total yang dapat berdampak pada kehidupan biota air serta kebutuhan irigasi di kawasan tersebut.
Penggelontoran air ke saluran irigasi juga menjadi bagian dari strategi pengelolaan sumber daya air selama musim kemarau. Dengan mempertahankan aliran minimum, pemerintah berharap keseimbangan ekosistem sungai tetap terjaga meskipun volume air yang tersedia sangat terbatas. Upaya tersebut dinilai penting untuk mencegah kerusakan lingkungan yang dapat terjadi apabila sungai benar-benar mengering.
Fenomena turunnya tinggi muka air hingga nol sentimeter menjadi pengingat bahwa perubahan musim memiliki dampak besar terhadap kondisi sungai dan ketersediaan air. Situasi ini sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan daerah resapan, konservasi lingkungan di kawasan hulu, serta penggunaan air secara bijaksana agar pasokan air tetap terjaga ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya. Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan masyarakat, diharapkan dampak musim kemarau terhadap ekosistem sungai dapat diminimalkan hingga curah hujan kembali meningkat. (Redaksi)

