21 Mei 2026 – Pekan terakhir kompetisi selalu menghadirkan suasana berbeda. Emosi, perayaan, dan antusiasme suporter biasanya memuncak saat musim memasuki titik akhir. Stadion dipenuhi nyanyian, koreografi, hingga berbagai bentuk ekspresi dukungan yang membuat atmosfer pertandingan terasa semakin meriah. Namun di balik euforia itu, tiga klub besar Indonesia memilih menyampaikan pesan penting kepada pendukungnya.
Persib Bandung, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta kompak menyerukan kampanye larangan penggunaan flare, petasan, serta kembang api pada pertandingan terakhir Super League musim 2025 hingga 2026. Imbauan tersebut dilakukan demi menjaga keamanan pertandingan sekaligus mencegah tim terkena sanksi yang dapat merugikan klub.
Pekan pamungkas Super League dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026. Tiga klub tersebut sama-sama akan memainkan laga kandang yang diprediksi berlangsung dengan atmosfer luar biasa.
Persib akan menjamu Persijap Jepara di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Di saat bersamaan, Persebaya Surabaya dijadwalkan menghadapi Persik Kediri, sedangkan Persija Jakarta akan menutup musim dengan menjamu Semen Padang di Jakarta International Stadium.
Pertandingan terakhir musim biasanya memiliki nuansa spesial. Bagi sebagian suporter, ini menjadi kesempatan merayakan perjalanan tim selama satu musim penuh sebelum kompetisi memasuki masa jeda.
Tidak jarang, tribun berubah menjadi lautan euforia dengan berbagai aksi perayaan.
Namun dalam beberapa musim terakhir, penggunaan flare, petasan, dan kembang api juga sering menjadi perhatian utama. Meski dianggap mampu menambah kemeriahan suasana stadion, penggunaan benda-benda tersebut kerap memunculkan konsekuensi serius.
Asap tebal dari flare dapat mengganggu jalannya pertandingan. Kondisi lapangan bisa terganggu, jarak pandang menurun, bahkan pertandingan berpotensi dihentikan apabila dinilai membahayakan keselamatan pemain dan penonton.
Karena itu, pihak klub mulai mengambil langkah pencegahan.
Persib Bandung menjadi salah satu klub yang secara tegas menyoroti persoalan tersebut. Apalagi tim asal Kota Bandung itu diperkirakan akan menjalani momen penting apabila perayaan gelar berlangsung setelah pertandingan.
Manajemen Persib mengingatkan bahwa penggunaan flare dan petasan sangat dilarang, terutama saat prosesi penting seperti seremoni penyerahan trofi berlangsung.
Pihak klub menilai momen pengangkatan piala seharusnya menjadi perayaan yang aman dan berjalan lancar tanpa gangguan yang dapat menghambat jalannya acara.
Selain persoalan keamanan, penggunaan flare juga berpotensi memunculkan konsekuensi disiplin. Komite Disiplin PSSI diketahui memiliki aturan ketat mengenai penggunaan benda-benda terlarang di area stadion.
Persebaya Surabaya juga mengambil langkah serupa.
Manajemen klub meminta Bonek untuk tetap menjaga ketertiban dan mengedepankan keselamatan selama pertandingan maupun rangkaian perayaan berlangsung.
Pihak klub berharap seluruh suporter dapat menikmati laga penutup musim dengan penuh semangat, tetapi tetap mengikuti aturan yang berlaku.
Ajakan tersebut bukan sekadar formalitas. Klub menilai dukungan terbaik bukan hanya soal menciptakan atmosfer meriah, tetapi juga memastikan tim tidak terkena dampak negatif akibat pelanggaran regulasi.
Sementara itu, Persija Jakarta menyoroti aspek lain yang tak kalah penting, yakni ancaman sanksi finansial.
Panitia pelaksana Persija mengingatkan bahwa penggunaan flare dapat berujung denda dengan nilai yang sangat besar. Bahkan satu flare saja dapat memunculkan sanksi jutaan rupiah, sementara jumlah yang lebih banyak berpotensi membuat klub menanggung kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Situasi tersebut tentu menjadi beban yang tidak diinginkan bagi klub.
Terlebih pada era sepak bola modern, aspek pengelolaan finansial menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas tim.
Fenomena flare memang bukan hal baru di sepak bola Indonesia. Dalam banyak kesempatan, suporter menganggap flare sebagai simbol kemeriahan dan bagian dari budaya tribun.
Namun seiring meningkatnya tuntutan keamanan dan standar penyelenggaraan kompetisi, penggunaan benda tersebut semakin menjadi perhatian serius.
Kini, menjelang laga terakhir musim, tiga klub besar Indonesia mengirimkan pesan yang sama.
Euforia tetap boleh hadir. Stadion tetap bisa bergemuruh oleh nyanyian dan dukungan tanpa henti. Namun seluruh perayaan diharapkan berlangsung dengan cara yang aman, tertib, dan tidak merugikan tim yang didukung.
Sebab pada akhirnya, dukungan terbaik bukan hanya soal menciptakan suasana meriah, tetapi juga menjaga klub agar tetap melangkah tanpa dibayangi sanksi dan kerugian di akhir musim. (Redaksi)

