17 April 2026 – Sorotan publik kembali mengarah pada Denise Chariesta, namun kali ini bukan soal kontroversi pribadinya, melainkan tentang sang buah hati, Jaden Bowen Yap. Di tengah derasnya arus media sosial, Denise mengungkapkan kesedihannya karena anaknya yang masih sangat kecil justru menjadi sasaran komentar negatif dari warganet.
Fenomena ini memperlihatkan sisi lain dari kehidupan publik figur di era digital. Tidak hanya individu yang menjadi sorotan, tetapi juga keluarga, bahkan anak yang belum memahami apa pun tentang dunia maya. Denise mengaku tidak bisa menutupi perasaannya sebagai seorang ibu ketika melihat berbagai komentar yang menyakitkan ditujukan kepada anaknya.
Menurutnya, tidak ada orang tua yang mampu menerima dengan lapang dada ketika anaknya dihina, dicaci, bahkan didoakan hal-hal buruk. Ia menegaskan bahwa kritik yang membangun tentu masih bisa diterima, namun serangan verbal yang berlebihan jelas melampaui batas.
Meski begitu, sikap Denise terhadap situasi ini terbilang tidak biasa. Alih-alih menyimpan amarah atau membalas, ia memilih untuk melihat sisi lain dari perhatian tersebut. Ia meyakini bahwa sebagian dari komentar yang muncul sebenarnya berangkat dari rasa peduli, meskipun cara penyampaiannya keliru.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Denise juga menekankan pentingnya pola asuh yang penuh kelembutan. Ia percaya bahwa pendekatan yang tidak keras justru mampu membangun hubungan emosional yang lebih kuat antara orang tua dan anak. Prinsip ini pula yang ia terapkan dalam keseharian bersama Jaden.
Pendekatan yang ia sebut sebagai “No No Baby” bahkan akan dikembangkan menjadi karya kreatif. Denise berencana merilis lagu dengan judul yang sama sebagai bentuk ekspresi sekaligus kampanye pola asuh yang lebih positif dan penuh kasih.
Di sisi lain, ia menyadari bahwa Jaden masih berada di usia sangat dini dan belum memahami apa yang terjadi di sekitarnya, termasuk sorotan publik yang mengiringinya. Namun, Denise tetap berupaya menanamkan nilai penting sejak awal, yaitu tentang memaafkan.
Ia berharap, ketika anaknya tumbuh dan mulai memahami dunia, ia tidak akan menyimpan luka dari komentar masa lalu. Sebaliknya, ia ingin Jaden menjadi pribadi yang mampu memaafkan dan tetap memiliki hati yang kuat.
Curahan hati Denise juga sempat ia bagikan melalui media sosial. Dalam unggahannya, ia menggambarkan bagaimana anaknya tetap tersenyum di tengah berbagai komentar negatif yang diterima sejak bayi. Ia juga mengungkapkan rasa syukur karena sang anak tumbuh sehat dan membawa kebahagiaan, bahkan dianggap membawa rezeki bagi banyak orang di sekitarnya.
Kisah ini menjadi refleksi tentang bagaimana media sosial dapat memberikan dampak luas, termasuk kepada mereka yang seharusnya berada di luar sorotan. Di tengah dunia digital yang semakin terbuka, batas antara ruang pribadi dan konsumsi publik menjadi semakin tipis.
Apa yang dialami Denise dan anaknya juga menjadi pengingat penting bahwa etika dalam berkomentar tetap harus dijaga. Di balik setiap akun, ada manusia nyata yang merasakan dampaknya, termasuk anak-anak yang belum mampu memahami atau membela diri.
Dengan memilih jalur empati dan pengasuhan yang penuh kasih, Denise mencoba menghadapi situasi ini dengan cara yang berbeda. Bukan dengan kemarahan, tetapi dengan harapan bahwa nilai kebaikan tetap bisa tumbuh, bahkan di tengah derasnya kritik dan hujatan. (Redaksi)

