11 April 2026 – Di tengah performa impresif Arsenal musim ini, posisi Mikel Arteta justru menjadi bahan perdebatan. Meski membawa tim bersaing di puncak Premier League, pelatih asal Spanyol itu dinilai belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi besar klub, terutama dalam hal koleksi trofi.
Arteta telah menangani Arsenal sejak 2019 dan diberi waktu yang relatif panjang untuk membangun proyek jangka panjang. Namun dalam kurun tersebut, ia baru mampu mempersembahkan satu gelar FA Cup serta dua trofi Community Shield. Catatan ini memunculkan pertanyaan, apakah pencapaian tersebut cukup bagi klub dengan sejarah besar seperti Arsenal.
Musim ini sebenarnya memberi harapan besar. Arsenal tampil konsisten dan sempat memimpin klasemen hingga memasuki pekan ke-31 dengan keunggulan poin yang cukup signifikan. Situasi ini membuka peluang nyata bagi mereka untuk mengakhiri puasa gelar liga yang telah berlangsung lama.
Namun demikian, kritik tetap berdatangan. Salah satunya dari Jimmy Floyd Hasselbaink, mantan striker yang cukup dikenal di kompetisi Inggris. Ia menyoroti lamanya waktu yang telah diberikan kepada Arteta dibandingkan dengan jumlah trofi yang diraih.
Menurutnya, keberhasilan Arsenal berada di posisi atas klasemen tidak bisa dilepaskan dari investasi besar yang telah digelontorkan klub dalam beberapa musim terakhir. Dengan skuad yang dinilai dalam dan berkualitas, ia mempertanyakan mengapa dominasi Arsenal belum benar-benar terlihat secara konsisten.
Selain soal trofi, gaya bermain Arsenal juga tak luput dari sorotan. Di bawah Arteta, tim dikenal tampil disiplin, solid dalam bertahan, dan efektif memanfaatkan situasi bola mati. Pendekatan pragmatis ini memang terbukti mampu membawa hasil positif, tetapi dianggap kurang menghadirkan daya tarik dari sisi estetika permainan.
Hasselbaink menilai bahwa pendekatan seperti itu memang kerap menjadi kunci dalam perebutan gelar liga. Namun ia juga berharap Arsenal dapat menampilkan variasi taktik yang lebih berani dan atraktif, mengingat tradisi klub yang identik dengan permainan menyerang dan menghibur.
Di sisi lain, bertahannya Arteta dalam jangka waktu lama juga dianggap sebagai bentuk kepercayaan besar dari manajemen klub. Dalam dunia sepak bola modern yang serba cepat dan penuh tekanan, jarang ada pelatih yang diberi waktu panjang tanpa tuntutan hasil instan.
Situasi ini menempatkan Arteta dalam posisi yang unik. Ia berada di antara dua kutub penilaian yang berbeda antara hasil yang mulai terlihat dan ekspektasi besar yang belum sepenuhnya terpenuhi. Dengan kompetisi yang masih berjalan, peluang untuk membungkam kritik tetap terbuka lebar.
Jika mampu membawa Arsenal meraih gelar liga musim ini, narasi tentang keberuntungan kemungkinan akan berubah menjadi pengakuan atas kesabaran dan visi jangka panjang. Namun jika gagal, perdebatan soal kelayakannya menangani klub sebesar Arsenal hampir pasti akan kembali mencuat dengan lebih keras. (Redaksi)

